Sebagian mungkin terdengar absurd, konyol, berlebihan. Namun kami berjanji kisah di bawah benar adanya
LATAR BELAKANG
Aku sebenarnya nggak selalu gemuk, dan nggak selalu kurus juga. Cuman mungkin jadinya agak kayak roller-coaster.
Masa Kecil (~10 th, ~25 kg)
Disordernya susah banget makan. Tenggorokan berasa kekunci, hidung kelewat sensitif, mata manja milih-milih. Bikin orang tua repot minimal 3 kali sehari pake drama tantrum dan tangisan. Alhasil? Badan kurus kerontang, lemah lunglai, nggak seaktif anak-anak lain.
Masa Remaja Awal (~12 th, ~50 kg)
Ekonomi keluarga membaik, orang tua nggak perlu mikir tiga kali buat beliin makanan yang aku mau. Cukup gizi sama porsi. Tapi mungkin ada rasa balas dendam di bawah alam sadar karena dulu susah makan, jadinya mulai disorder overeating, mengarah ke obesitas ngelewatin indeks tengah.
Masa Pondok Awal (~14 th, 39 kg)
Pilihan makanan terbatas lagi. Penurunan belasan kilo terjadi tanpa disengaja, bisa dibilang berlebihan. Orang tua sedih mungkin teringat masa kecilku, walaupun akunya sendiri ngerasa biasa-biasa aja.
Masa Pondok Akhir (~18 th, ~65 kg)
Mulai dikasih akses pegang uang sendiri, pergaulan melebar, jangkauan jajan meluas. Kedistraksi masa remaja, malas, cuma pengen hiburan. Nggak sadar ada bom waktu, apalagi kepikiran untuk berhenti. Tahu-tahu indeks obesitas terlewat lagi.
Masa Dewasa Muda (~20 th, ~73+ kg)
Mulai punya pemasukan. Perubahan berat badan emang melambat, tapi rutinitas makan yang sama terus bikin penumpukan lemak tanpa sadar. Pernah coba makan porsi kecil, tapi jajannya tetap jalan. Malah karena makanan utama sedikit, berasa lapar, jajan makin banyak. Timbangan sempat menyentuh 73 kg, dan mungkin lebih kalau pas lagi nggak nimbang.
TITIK BALIK
Akarnya tuh peristiwa 7 Oktober, percaya deh.
Aku mungkin FOMO sama gerakan boikot, atau merasa bersalah karena dulu pelanggan sejati dari banyak produk afiliasi. Intinya, sejak saat itu aku jadi semangat buat nyari tahu apa aja yang bisa aku stop support, terutama makanan, jajanan.
Nah merek-merek populer ini kan racikannya emang jago banget, tahu betul cara dibikin nyandu. Jadi pas aku nyari alternatifnya, ya nggak nemu yang rasanya "wah" pas banget di lidah. Paling mentok cuma sebatas "doyan" aja. Nah dari situ aja nafsu makan mulai berkurang.
Terus juga karena sering liat video orang Gaza kelaparan. Nafsu makan makin drop lagi. Justru pas liat roti mereka yang seadanya... kaya tergiur sekaligus sadar, hidup sederhana itu mungkin ya.
Di sinilah mulai kerasa, bisa nih, ngurangin intensitas makan.
Masa jutaan orang kelaparan, aku kekenyangan.
LANGKAH
Kalau disederhanain;
Berteman dengan lapar, berhenti sebelum kenyang.
Langkahnya;
Jangan beli makanan favorit, yang disukain banget
Stok bahan yang paling mentok doyan, cukup oke
Stop lihat konten kuliner bikin ngiler
Rasain bahwa lapar adalah bumbu terlezat
Latihan puasa sunnah, di awal mungkin niatnya belum 100% atau No.1 karena Allah, malah untuk diet, untuk kontrol nafsu makan, tapi tetap lakuin aja dulu
Bahan / Menunya;
Kalo disederhanain, nafsu makanku tuh pada yang asin dan manis. Jadi aku beli bahan yang memenuhi aspek dasar itu aja.
Roti Tawar
Madu Kemasan
Telur Ayam
Mentega
Garam
Lada
Air Dispenser
Menu Manis:
Roti panggang oles madu.
Kalau bosan, minum air madu hangat.
Menu Asin/Gurih:
Roti Panggang, French toast versi hemat, atau Telur Aja.
Btw roti kan irisannya "tipis" ya, jadi lebih gampang nilai porsi dibanding nasi misalnya. Manggang pakai pan datar biasa, harus satu per satu. Minimalisir masak terlalu banyak, kekenyangan karena terpaksa ngabisin. Biasanya dua udah 'kenyang' alias kerasa cukup+bosan. Kalau masih kurang bisa satu lagi. Bisa pertama asin, kedua manis. Sesuai craving.
Makan Siang agak bebas, pokoknya halal, not affiliated, ketiga baru kalau bisa sehat (terutama cari sayur dan buah karena makan roti tanpa sayur). Dan karena untungnya di rumah ada kulkas, masakan lunch selalu buat untuk 2–3 hari, karena sering porsinya terlalu besar untuk goal berhenti sebelum kenyang.
Soal puasa, yang paling penting adalah jangan balas dendam. Nggak makan seharian bukan berarti habis itu bisa lahap tiga porsi sekaligus. Tetap dibatasin beberapa helai roti.
Aktivitas tubuh juga aku coba tambahin. Lebih sering jalan, bersepeda. Tapi tergantung lagi dimana. Nggak cukup rutin untuk dianggap berdampak banyak dalam rangka menurunkan berat badan.
Perkembangan Harian:
Dengan diet seperti ini, setiap pagi setelah BAB aku menimbang, selalu tampak pengurangan sekitar 150 gram. Jika setelah puasa bisa 300–500 gram.
KEKURANGAN
Tentu metode ini punya banyak keterbatasan
Dari segi variasi gizi jauh dari kata ideal.
Jujur berasa lemah, terutama pas puasa (belum di tingkat Nabi SAW dan para sahabat yang mampu berperang dengan sahur tiga butir kurma).
Saat ada tamu berkunjung, aku canggung karena nggak punya stok hidangan/camilan manis-gurih yang lazim disajikan tuan rumah lain.
Metode ini belum tentu berlaku untuk orang yang punya faktor genetik gemuk atau metabolisme tinggi yang selalu kurus. Bisa jadi hanya untukku yang berat badannya labil.
SINGKATNYA
Kunci Utama:
Mindset berteman dengan lapar, berhenti sebelum kenyang. Memangkas akses ke makanan minuman favorit. Jauhi konten kuliner. Puasa Senin-Kamis.
Menu Andalan:
Roti tawar, madu, telur, mentega, garam, lada. Sederhana, terukur, dan memenuhi hasrat manis/gurih tanpa berlebihan.
Hasil:
Dari puncak 73+ kg turun dan stabil di kisaran 58–60 kg (penurunan ~150g/hari, atau 300–500g setelah puasa).
LATAR BELAKANG
Seni itu murni selera bukan? Suka dan tidak suka. Tapi disaat yang bersamaan, rasa suka itu seringkali dibentuk melalui frekuensi. Sering dengar lagu tertentu, lama-lama suka. Karena suka, jadi makin sering didengar, makin suka pula. Terus begitu.
Kita penggemar berat musik pun sampai sok jadi ahli kritik. Oh ini memang tidak langsung masuk dalam first-listen, tapi coba saja setelah beberapa kali, akan berasa daya tariknya.
Aku mungkin jadi fans Ungu di waktu kecil sesimpel karena sering mendengar lagu-lagunya di"setel" Abi di komputer keluarga. Kemudian groove along atau apapun itu suka Linkin Park karena Kakak download di mp3 playernya.
Mungkin juga aku "benci" alias agak repulsed sama dangdut yang kadang kedengeran pas disetel Pamanku, or omku, idk whats a fitting consistent word here, karena belum cukup terpapar aja. Toh kalau jujur sebetulnya ada rasa penasaran, dan juga ketertarikan. Namun rasa jaim ana tidak mau dihubungkan dengan suara mendayu-dayu, desahan godaan manja, eksploitaso pesona betina, dan respon meraung/animalistik pejantan yang diproyeksikan di dalamya.
Mungkin itu terlalu kritis ya, tapi buktinya ana malu, khawatir suka, nantinya image ternoda, sebagai anak muda yang perhatian dan validasi adalah segalanya
Sebagaimana ana mulai terpapar ke jauh lebih banyak musik populer seiring masa SMA. Lokal, internasional, jika cukup terkenal, sudah, kita semua setel. Seperti sudah tidak terpisahkan dari tongkrongan, ...., gaya hidup, bahkan soundtrack senam matpel penjas.
Kala itu ana punya stigma ato side-eye idk juga sama kpop. Identik sama oplas, cowok cantik, slander atau apalah itu yang marak ditujukan kepadanya.
Namun aku mulai resah pula dengan musik lokal, dan barat, yang tentu bisa ana pahami liriknya. Semakin ana jago bahasa inggris, paham moda atau cara kerja puisi, sampai inuendo dan sebagainya.
Jadi klik dong, Kok gini semua ya, kalau nggak galau, romantis, erotis! Seakan akan dangdut all over again. Secara jaim bukan masalaj toh semua orang suka. Cuma dari segi komprehensi mulai kurang nyaman.
Ladalah, musik bahasa asing jadi alternatif yang pas. Mulai dari jepang, ost anime. Tidak memahami lirik jadi poin plus besar! agar bisa menikmati melodi tanpa pikiran kemana2, turn off aja otaknya.
Kemudian kpop kembali dengan hidangan yang seakan made for me, at that specific time. Twice - TT. bahas lagi kaya tadi sepantaran sama tzuyu dst, naksir of course dia seimut secakep itu.
TITIK BALIK
Alasan:
Di era tiktok, ga bisa lagi obsessed sama satu artist aja, bahkan sama satu genre aja
Mereka saling cover satu sama lain, lipsync audio, collab, and so on and on
udah ngeblur, hampir gaada bedanya barat sma timur
Trending audio juga ngebombardir terus tuh. akhirnya ya ana ke ekspos lagi ke lagu lagu barat yang dulu ana jauhi karena paham artinya. paham seberapa jorok liriknya.
melihat kebiasaan ana terus bikin ana makin terjerumus, candu ke ucapan, penampilan, dan gaya hidup yang nggak sesuai ajaran, ana mulai gelisah
LANGKAH
Alasan:
Mendekat kepada Al-Qur'an.
SINGKATNYA
Alasan:
Langkah:
Transisi ke musik tanpa lirik
Lagu favorit versi instrumental
Lagu klasik tanpa persona hidup dibelakangnya
White noise kaya suara hujan, -api unggun.
Podcast.
Ceramah.
Senantiasa mendekat kepada Al-Qur'an.
LATAR BELAKANG
Simpel, umur gua kepala dua, solat kadang telat tapi ga bolong, tabungan bolehlah, organ-organ berfungsi normal, ya gua mau nikah. Gimana ya cari calon istri? Gua belum pernah jadian, walaupun setengah karena ga laku, setengah karena ga jualan juga. Pinginnya ditembak duluan kali ya, ngimpi.
Dulu bocil labil sih emang. Ga nembak karena gamau ditolak. Pingin deket sama banyak temen cewek juga. Sadar juga ga punya modal. Lagian SMP-SMA jadian ngapain? Apalagi pacaran yang definisinya berdua2an, pegang2an, seks bebas. Big no bagi gua yang keluarganya agamis. Kalo ngobrol, bercanda, main, makan.. gitu mah ama temen-temen juga bisa.
Tapi berhubung udah gede, coba aja deh, asal "propose" jarak jauh ke kenalan sekelas pas gua sekolah di luar kota. Kita kadang masih konek di sosmed sama group chat. Setelah kekirim, dia jawab, ga langsung di iyain, tapi ga ditolak juga.
Pokoknya mulai ngobrol dulu, dengan jelas niat gua ke arah nikah.
Kita sama-sama kerja, suka musik, film, drama, entertainment. Jadi banyak dong topik ngobrol. Bales-balesan story, chat sapa-sapaan pagi-malem, ngingetin/bahas makanan, curhat soal kerja.. yaa buat kalian yang udah pengalaman kebayang PDKT gimana, cuman kaya berusaha "syariah" gitu. Kaya pernah minta telpon waktu subuh juga biar sholatnya ga kesiangan.
Lama-lama makin sering, makin nyaman, makin... enak. Ngegombal, dari manja implisit perlahan ke ekspresif (ga sampai eksplisit sih), bahas-bahas bayangan kalo udah nikah nanti gimana. Dari awal kan udah bilang gua organ gua jalan ya, otak laki juga ya pasti kepancing pingin diterusin, pingin lebih. Dan dianya ngasih.
Yaudah hubungan terus disambung, sampe akhirnya ada kesempatan ketemu. Karena gua dari luar kota, kaya mokondo dianter-jemput, terus pas malem pulang gua minta turun jauh-jauh dari rumah sodara tempat nginep. Lagi-lagi karena alasan lingkungan keluarga besar agamis.
Mungkin dia paham ya, gua milih dia, dan mungkin dia nerima gua juga karena sefrekuensi. Sama-sama sholat, puasa, nutup aurat, tapi... yaa boleh lah ngomong jorok dikit, ghibah, banyak temen lawan jenis, nonton film romantis, ngefans idol-idol cakep. Cerminan masing-masing banget dah.
Selama setahunan ga melambat sama sekali pertumbuhan hubungannya. Semakin banyak ngobrol jadi tambah tau pribadi masing-masing dong, kesamaan kesukaan antara kita. Jadwal main makin sering, pengeluaran makin banyak, obrolan makin mesra.
..Oh jadi itu ya bedanya sama sekedar temenan.
Ternyata kalo batasnya serendah ga pegangan, ga ngeseks, sisanya kaya dihajar aja semua.
Kaya gua kan tau sama konsep menundukkan pandangan kan, yaudah setiap kali kita ketemu, gua ga tatap mata dia langsung aja. Kaya orang autis yang udah pro, menghindar sana-sini.
Terus juga tau gaboleh berduaan di tempat sepi. Yaudah selalu di tempat rame aja. Pernah juga bahkan ngajak temen cowok gua biar ga berduaan. Tapi ya mana bisa nemenin seharian. Akhirnya ya tetep berduaan. Di lorong panjang menuju musholla mall, di resto yang pake sekat, sampe malem-malem di mobil pas nganter dia pulang.
Goncengan motor juga sering. Dulu dulu gua anti, tapi sekarang.. gimana lagi cara gua main bareng dia? Pisah dua motor? Kalaupun ngojek kan digonceng cowok juga, ya mending sama gua aja. Dan alasan-alasan lain sebagainya.
TITIK BALIK
Cuman kok rasanya kaya minum air laut ya, atau ramuan terkutuk.
Kesempatan ketemu dan ngobrol yang sedikit bikin terus kerasa kurang.
Tapi pas interaksi intens juga, celah-celah kekurangan jadi pada di depan mata.
Kaya pas ketemuan sama circle temen deket. Dia sungkan malu kucing di depan gua, di saat yang sama, akrab bercanda sama cowok-cowok. Alasannya sih masuk akal, mereka udah temenan sebelum kenal gua, dan setelah gua pindah keluar kota lagi. Mereka udah kaya bestie aja ga ada maksud apa-apa. Justru karena punya perasaan sama gua, jadinya agak diem-dieman.
Gua mana bisa nyangkal. Sama temen atau coworker cewek juga gua gitu.
Terus pas liat dia mengagumi idola-idola cowok di muka gua. Yang gantengnya beneran level dunia. Yang kerjaannya, bakatnya, bergestur gerik energetik menarik sambil nebar kata-kata romantis alias gombal. Jujur ya rasanya risih. Alasannya sih biasa, toh mustahil ketemu, cuma di layar, ga bakal ngapa-ngapain, dan sebagainya.
Gua susah bales. Lagian emang ngidol juga sama seleb-seleb seksi.
...
Di titik itu semua love language udah kita lakuin ke satu sama lain, kecuali physical touch. Dan kita menilai diri sendiri sebagai agamis yang berarti ga bakal kesana.
Jadi basically, pertumbuhan kemesraannya kaya udah mentok.
Sedangkan keresahannya, numpuk.
Dulu masih banyak yang belum saling tahu jadinya terus penasaran,
sekarang dianggap bisa saling baca pikiran jadinya banyak sangkaan.
Dulu kesamaan sepele kaya suka jajanan yang sama bikin berasa sejoli,
Sekarang perbedaan sepele kaya suka wisata beda jadi berasa nggak serasi.
Dulu chatting sebentar aja udah jadi moodbooster seharian,
Sekarang nggak dikabarin sejam aja pikirannya udah berkeliaran.
Hubungan sama temen-temen dan idola-idola cowoknya juga makin kelihatan.
Lama-lama juga kepikiran..
Kalau kita yang ga serumah, jarang ketemu fisik, bermulai dari temen, dan cuma ngandelin obrolan via gadget aja bisa jadi sedeket ini, bikin gua seseneng itu, sesedih ini, senafsu itu.
Apa jaminannya kita ga bakal ke level yang serupa,
sama temen-temen lawan jenis yang lain?
sama idola-idola yang tetep manusia biasa?
Jawab pakai alasan sih ada aja, ga bakal habis. Tapi tetep ga ada yang bisa jamin.
Hampir dua tahun berlalu, metode gua nyari calon istri baru mulai dipertanyakan.
Baru sekarang kegelisahannya melebihi birahi.
Mulai tuh cari-cari solusi, algoritma mulai penuh tiktoker "pakar" hubungan. Tapi juga banyak konten storytelling tentang toxic relationship. Jadi kadang dapet pelajaran yang kedengeran bagus, kadang coba dipraktekin, kadang dishare ke dia, kadang bersyukur hubungan gua ga separah orang-orang, kadang juga was-was parah khawatir kalo dibiarin arahnya akan separah orang-orang.
Ga berhasil, ga inget gimana, akhirnya gua beneran pake agama, bukan cuma ngaku agamis.
Jujur kayanya awalnya gua munafik, ambil-ambil ajaran Islam yang releven buat masalah paling meresahkan gua. Yaitu tentang batasan antar jenis kelamin. Gua kira cocok nih buat nyelesain keakraban dia sama temen-temen cowoknya dan kesukaan dia sama para seleb ganteng. Munafik ya karena gua kaya nganggep diri gua udah fix bakal jadi suami dia, bukan cowok yang perlu dibatasin juga.
Sebagai sok paling calon suami gua berusaha ngajarin dia ke arah yang menurut gua benar, dan baik untuk hubungan kita. Usaha dalam artian makin sering kirim-kirim makanan, hadiah, berlagak menafkahi. Padahal sadar/sengaja atau tidak, itu bikin gua ngerasa berjasa dan berhak minta ini-itu. Mulai menceramahi, menggurui, sebenernya menuntut cuman dibalut diskusi. Wah nyusun kata-kata ngomong panjang lebar biar sejelas mungkin dan bisa diterima.
Ditengah karir dan kehidupun masing-masing yang berjauhan dan semakin berbeda.
Perubahan mulai tampak drastis
Ada rasa tanggungjawab
Takut ditinggalkan, diduakan
Ada rasa dikhianati, dikekang
Nggak lagi diterima apa adanya
Kebayang ga capeknya.
Padahal gua bukan suami yang dapet pahala wajib nasehatin istri.
Dia bukan istri yang dapet pahala wajib pas nurutin arahan suami.
Nggak terikat akad ibadah panjang yang terhitung amal tiap detiknya.
...
Sekiranya harmonis pun percuma
Kalau berantakan.. udah stress, dosa
LANGKAH
Udah putusin aja
...
Iyadong, di usaha gua nyari dalil untuk bikin dia patuh, gua juga pasti ketemu ajaran lain Islam yang luas. Yang ngejelasin bahwa semua itu salah, dosa. Dan cerminan pribadi kita yang "agamis tapi..." itu jadi tameng alasan untuk tetap dalam dosa, bukannya mengejar taqwa.
Oh barengan di tempat rame tuh sama aja ya, kan masih berduaan, kadang juga pilih pojokan yang sepi. Belum lagi interaksi digital, di japri kan cuma berdua tuh. Buktinya banyak pembahasan dan ucapan sensitif disitu. Ga bakal diomongin kalau di grup yang ada teman, guru, apalagi ortu masing-masing.
Oh terus kalau rame pun nggak boleh deket-deketan ya antara lawan jenis. Di pekerjaan yang notabenenya kebutuhan aja harus diusahain dijauhin. Apalagi kumpul-kumpul nongkrong antar temen, sama-sama pada umur subur lagi. Biasa untuk terjadi obrolan melantur, gesekan emosional, dan godaan bercanda. Termasuk, atau terutama di group chat juga.
Oh menundukkan pandangan tuh bukan secara fisik aja, justru tafsir yang lebih tepat itu menurunkan (intensitas) pandangan, alias jangan menatap/menonton/melihat seksama lama-lama. Termasuk lewat layar juga. Siapa bilang kalo gambar rekaman jadi boleh ngeliatin wajah cakep, udel sixpack, atasan ketat, paha terbuka, pinggul goyang-goyang. Padahal orang bercadar bersimpuh sopan pun jangan dipelototin.
Oh berarti kontak sama follow sama temen, kenalan, ataupun seleb lawan jenis juga hati-hati ya. Kita kan nggak bisa ngatur pakaian mereka gimana. Pose atau ekspresi mereka. Sharing kehidupan mereka. Eh, kalau ga pernah liat, ga pernah penasaran, ga pernah kepikiran untuk basa-basi juga. Toh perbincangan antar lawan jenis bolehnya hanya kalau berkebutuhan.
Oh harga diri muslimah itu semulia itu ya. Senyuman manisnya bukan buat diobral untuk semua. Kata-kata mesranya nggak bisa dibayar dengan harga serupa. Perhatiannya, kehangatannya, apalagi badan dan pengorbanannya. Hanya perjanjian atas nama Yang Maha Kuasa di depan para saksi yang bisa menjadi semacam down payment.
Oh hati manusia itu berada di antara jemari-Nya ya. Ga bisa gua banting tulang, bersilat lidah, berdalil sampai berbusa maksa orang lain berubah sesuai ekspektasi gua. Mengubah keyakinan dan orientasi hati seseorang bukan tugas gua, dan gua ga akan pernah sanggup melakukannya.
Oh hanya Allah tempat bersandar, memohon, dan mengadu ya. Kurang bijak untuk sibuk berburu validasi, kenyamanan, tempat curhat, dan rasa aman dari hubungan romantis. Bersandar ke sesama makhluk yang sama-sama rentan cuman akan melahirkan ketakutan akan kehilangan dan kekecewaan yang mendalam.
Jadi kalau pemahaman ini belum jadi keyakinan yang mengakar di masing-masing pribadi, belum disepakatin bersama sejak hubungan dimulai, ya bakal jadi jalur terjal yang melelahkan.
Karena Islam bukan proyek sampingan yang hanya bisa terkadang diperhatikan. Itupun seringkali keluar kuping kiri, tidak dipraktekkan.
Syariat ga hanya ngeharamin seks bebas, tapi juga langkah-langkah menujunya. Ada juga tatanan lengkap untuk menjaga, membentengi, dan menjunjung tinggi kemuliaan setiap jiwa dan raga.
SINGKATNYA
Keresahan:
Trans
KERESAHAN
Alasan:
-
SINGKATNYA
Alasan:
Langkah:
LATAR BELAKANG
Exposure:
Lu mungkin ga nyangka, gw juga kek bertanya-tanya. Tapi seinget gw ini berawal dari masih bocah banget. Kadang main sama anak-anak nakal, padahal biasanya kaga relate, gw terlalu cupu ga asik. Mungkin fase rebel, caper, jadi ikut-ikutan aja.
Pernah sekilas dikasi liat video porno yang mereka download di hape nokia layar kecil resolusi kotak-kotak gitu. Mungkin ada rasa aneh yang muncul tapi gatau mau diapain, yaudah aja.
Terus suatu hari somehow diajak mandi bareng, dan anak yang lebih tua ngasih liat cara ngocok, pake sabun.
Di momen-momen itu beneran kaga ada alarm di kepala bocil gw kalo itu ga baik. Entah saking polosnya, atau mungkin malah karena udah dilatih sama tontonan kartun anak-anak sekalipun, selalu ada subliminal message soal love interest, selalu ada sex appeal, sesedikit apapun.
Tapi tetep, gw ga paham bener, ini buat apa, sensasi ini apa. Jadi seinget gw ga ngapa2in setelah itu. Masih ribet bocah aja pusing ngerjain pr, pengen mainan, takut hantu, dll.
Pemicu sama akses ke bahan-bahan juga susah banget pastinya, mana tau caranya. Jadi selang berapa taun ga kepikiran.
Sampe akhirnya puber, jeng jeng, waduh ini bahaya. Mungkin secara biologis dari dalem aja udah menggebu-gebu banget. Minim pemicu dari luar pun tetep ada dorongan. Somehow, suatu saat keinget, oiya pernah dikasih tau suatu teknik.
Mulai nih eksekusi mandiri. Awalnya modal fantasi bayangan sendiri. Kalo ada pinjeman komik, kadang cari yang ada gambar agak kotornya. Misalnya Tsunade, kaya gitu.
Eh terus akses internet kebuka lebar. Semua berubah lagi, lebih ancur. Sebenernya kaga langsung DOR situs porno gitu sih. Lebih dari status-status jorok, foto-foto agak hot, sebenernya gitu pun susah juga nyarinya.
Yang banyak tuh candaan ato meme kotor. Sama cuplikan media mainstrem yang banyak adegan terselubung. Sex jokes dsb.
Setelah makin "pinter" main internet, baru bisa nembus blok pemerintah, nemu forum-forum tersembunyi, sisi gelap sosmed. Tapi seiring waktu, algoritma udah kelatih sih, di feed pun kagak dicari juga dateng aja terus.
Eskalasi:
Pemicu dan akses lancar terus, udah deh, jadi aksi rutin. Makin sering mana ada jadi puas. Yang ada ya makin nyandu. Makin tolol nih otak gatau batas.
Sabun batangan, sabun cair, sampo, sampo bayi, lotion, vaseline, odol juga dicoba sampe kelamin kepanasan mint.
Tisu, handuk, goyang2 di kasur, gantian tangan kanan kiri, gesek ke perut sendiri, ke paha, ke tembok, ke plafon ga tuh lama-lama.
Dari layar hape, tablet, sampe beli adapter buat nyambungin ke proyektor coba. Beneran, jadi besar di dinding gitu. Download aplikasi kalkulator palsu buat folder rahasia isi stok video, screenshot, download.
Beli headset VR. Cari website 360 yang masih langka. Download bergiga2. Install aplikasi VR player. Bayar langganan VPN.
"Untungnya" kaga sampe beli ato bikin sex toy DIY. Karena ya emang aslinya malu lah, takut banget ketahuan, ngerasa hina jelas, cuman buta sama nafsu.
Dan banyak juga sih alesannya.
Excuse:
Mau gimane lagi, dorongan biologis.
Kalo ditahan malah resiko kanker loh.
Mendingan dilampiasin sendiri daripada jajan diluar.
Gw bisa bedain kali mana boongan mana beneran.
Gw ga nonton yang aneh-aneh kok.
Ntar pas nikah juga berenti.
Mana bukti ngerusak otak. Gw idup sehari-hari sehat aja.
Disfungsi ereksi, ah masa sih, emang gw belom pernah HB sih, liat nanti aja, jaman sekarang kan semua ada obatnya.
Kata riset ngerusak standar ke pasangan? Oh yaudah gw nonton yang rasnya, mukanya mirip gebetan gw aja, yang dadanya ga lebih gede, pantatnya ga lebih semok dari cewek gw. Biar ga ekspektasi jomplang pas nikah. Ya gak? Gw cowok baek kan? Perhatian kan? Komitmen nih.
Justru kalo gini cewek gw ntar ga perlu repot-repot, biar gw beresin sendiri.
Mending dua dimensi, cewek asli mah ribet.
Ah lu mah nge-judge doang, tau apa soal beginian.
TITIK BALIK
Bagian ini kaya anekdot personal, mungkin ga semua orang relate, ga bakal ngalamin hal yang sama. Tapi coba ambil aja pelajarannya..
...
Suatu hari gw demam, parah. Seumur-umur kaga pernah se menderita itu. Dingin nusuk tulang, pake daleman, baju, jaket, selimut dobel numpuk, tapi badan masih gemeteran kaya gempa otw tsunami. Disaat yang sama panas keringetan banjir, ini kali gelombang tsunaminya. Dunia rasanya kebolak-balik.
Badan berasa remuk, tinggal serbuk. Gabisa bangun, gabisa gerak, ngetik ato pegang hape aja mati-matian. Kepala cenat-cenut lagi, pikiran amburadul, mungkin pas itu yang namanya halu beneran.
Selemah itu, gw sendirian.
Di pojok ruang privasi remang2, yang bikin gw selama ini bisa berlaku binal kaga ketahuan. Kaga ada yang nemenin, bikinin atau beliin makan, bahkan ambilin minum, apalagi anter ke dokter.
Rasanya ajal udah tinggal sejengkal.
Rasanya kalo gw merem aja nih, ke alam mimpi, bakal tembus alam lain, udah kaga bangun lagi.
Kagak inget, apa di momen itu di gw masih dikelilingin gumpalan2 tisu bekas ngocok. Apa ada tab incognito yang belom ditutup. Jejak kebejatan gua selama ini kebayang semua.
Headset VR yang disembunyiin di laci. Folder rahasia dibalik ikon kalkulator. Akun-akun sosmed-sosmed utama, second acc, sampe third, yang isinya kotor semua. Likenya, savednya, follownya, recommendednya, downloadnya, chatnya, semuanya...
Ga cuma merinding meriang kedinginan.
Ga cuma takut kamar gelap karena ga kuat nyalain lampu.
Terus halusinasi didatengin paralysis demon.
Yang lebih horor.. kalo gw beneran mati di kondisi ini.
Mayat ditemuin acak-acakan begini.
Barang-barang dan elektronik gw ketauan senajis ini.
Ngadep ke Allah bawa kelakuan yang kotor parah.
Spot di neraka paling pelosok kaya udah dibooking.
Padahal panas demam aja udah nyiksa banget.
...
So... yakin gw mau mati kaya gini?
Kalo masi dikasi idup, apa yang mau diganti?
JALAN KELUAR
Bahkan habis peristiwa trauma kaya gitu, gw masih gabisa langsung stop total nonton, baca, ngocok. Kaya se nyandu itu, setersebar luas itu banyak pemicu, seberapa lemah gw masih kepancing mulu.
Gw gatau apa ini cara yang bener. Tapi disaat itu gw bertekad untuk ambil langkah2 menuju stop total dari candu ini. Pokoknya ini urutan gw.
Inget betapa malu-maluin, stres, repot lagi main rahasia-rahasiaan
Hapus semua folder rahasia, VPN, saved posts, exit forum gelap, group chat kotor, dsb dsb
Stop buka kategori-kategori ekstrem yang melenceng jauh sampe kita sendiri aslinya jijik
Hindarin konten yang jelas ngerugiin orang lain, kaya deepfake yang nyuri dan ngelecehin harga diri figur publik, seringkali idola kita sendiri, malah kita jadiin objek seks
Lepasin konten yang dimainin orang beneran, lagian kalo beneran happen di depan mata kita pasti risih kan, ngalih kan, harusnya di layar juga sama
Inget kalo pemeran di layar itu manusia kaya kita, apa kita mau masuk industri gituan? Gimana kalo pasangan gw? Anak gw? Orang tua gw anjj? Gimana kalo mereka yang kecanduan konten2 itu
Stop juga konten berbentuk ilustrasi sekalipun. Kagak ada ngeles ah cuma gambar, kaga beneran. Buktinya otak kite tetep ngeres, tetep ngaceng, pasti sama juga malunya kalo ketauan
FIlter media sosial dan hiburan harian. Film, serial, musik, anime, manga, bahkan post sosial media dari kreator yang kaga paham agama. Sedikit banyak ada resiko aurat, tubuh, ato wajah menggoda diliatin
Sibukin diri sama hal lain yang nguras waktu dan tenaga juga, cuman lebih positif. Olahraga kek, hobi kek, kerja kek, ketemu keluarga kek, kajian kek
Cari bantuan kalo bisa, kalo berani, ato kalo udah kelewatan. Ke temen ato malah pihak profesional anti judging
Inget Tuhan Maha Melihat, Maha Teliti, juga Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
Dia nggak cuma liat apa yang kita tonton, setel, baca, dll. Tapi juga usaha kita buat kembali kepada-Nya
Tips Tambahan:
Cowok, kalo ereksi keseringan, salah tempat, bikin resah, belum nikah, ini cara biar lemes:
Kencengin otot lain kaya paha, betis, ato tangan 30–60 detik. Paksa darah ngalir ke otot-otot besar, jadi yang di area vital otomatis nguurang.
Cewek, kalo terangsang, pinggul kerasa anget, gini biar ga kebablasan:
Cold shock, Membasuh wajah, tangan, atau sekitar area intim dengan air dingin untuk menurunkan sensitivitas saraf lokal.
SINGKATNYA
Exposure:
Pergaulan alias temen ato kenalan toxic waktu bocil
Paparan media yang nyisipin love interest, sex appeal, di kartun sekalipun
Masa-masa rentan, puber, butuh cara ngelampiasin dorongan
Penggunaan internet tanpa bimbingan
Eskalasi:
Desensitasi kategori, dari yang vanilla sampe ekstrem
Ekesperimentasi, pake alat-alat bantu, program-program penunjang
Rasionalisasi toksik, pembenaran sama alasan kaya persiapan nikah, daripada ke lokalisasi, dst
Motivasi:
Jangan nunggu trauma near-death experience, aib ga sengaja kebongkar di depan keluarga, webcam dihack terus diancem rekaman lagi ngocok dirilis kalo nggak bayar.
Selama otak, paru-paru, jantung.. hati kita masih fungsi. Pasti ada jalan balik.
Instruksi:
Sadar capeknya double-life
Bersihin aplikasi, folder, komunitas pemicu
Stop kategori ekstrem
Hindarin konten eksploitatif kaya deepfake
Lepasin yang live-action
Inget pemeran itu orang, kaya kita, pasangan kita, anak kita, orang tua kita
Ilustrasi juga berenti, emang gambar tapi terangsang juga kan
Filter media sosial dan konsumsi hiburan harian, aurat merajalela
Kuras waktu, tenaga, kuota, buat yang lebih manfaat
Terima support system, temen atopun profesional
Inget Tuhan tuh Maha Melihat, Maha Teliti, juga Maha Pengampun lagi Maha Penyayang