"Babi doang diharamin, tapi masih aja mabok, judi, zina."
Siapa sih dari kita yang nggak pernah ngakak, atau minimal ngangguk setuju sama kritik terhadap fenomena ini? Sungguh miris memang, terutama sebagai warga Indonesia yang katanya jumlah Muslim terbanyak di dunia, tapi korupsi merajalela, judi online peringkat pertama, dan dosa-dosa lain sebagainya.
Tapi alangkah ruginya jika kemudian kita mencaci maki, berlagak sombong, merasa suci.
Sedangkan bisa jadi,
kita terbiasa menelan hidangan yang jelas mengandung zat haram.
Bioskop, streaming service, algoritma media sosial.. senantiasa menyodorkan kepada kita berbagai santapan menawan. Yang mana cukup naif bila kita anggap tidak ada unsur pornografi di dalamnya. Dari adegan ciuman mesra antara sepasang bintang yang sama-sama sudah berkeluarga, ucapan dan gerakan menggoda, ketelanjangan sebagian atau sepenuhnya, hingga adegan intim terang-terangan di depan mata.
Namun kita lahap dengan dalih, "Toh cuma sedikit, sekian detik."
Bukankah jika kita paralelkan konsumsi mata dan telinga -> konsumsi mulut, perilaku tersebut sama saja dengan menikmati, menghayati, bahkan merekomendasikan
makanan yang jelas dilengkapi potongan daging babi
Belum lagi kandungan lemak babi, daging anjing, bangkai, darah, alkohol, angciu, dan kalau ayam atau sapi pun, tidak kita cari tahu apa betul disembelih atas nama Allah.
Tapi beginilah kita, tergiur dengan tren, lirik, akting, fashion, narasi, melodi, lelucon, estetika, sinematografi. Berkedok seni, budaya, hiburan semata. Tanpa sadar terbiasa menjalani hari-hari menyerap materi yang berseberangan dengan prinsip yang diklaim kita yakini.
رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَبْرَارِۚ ١٩٣
...Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang selalu berbuat kebaikan. (QS. Ali 'Imran : 193)